Uluwatu Bali, Keindahan Pura Di Atas Tebing Curam

Pura Uluwatu Bali
Pura Uluwatu Bali

Uluwatu adalah sebuah tempat tujuan wisata yang terkenal di Pulau Bali, dengan menawarkan keindahan alam yang menghijau, pura di atas tebing setinggi 50 meter dan dari atas tebing terlihat ombak yang menghempas tepian tebing dengan gulungan berwarna putih, jika memandang sejauh mata, terlihat biru hamparan laut yang langsung menghadap ke samudera hindia. Uluwatu Bali adalah sebuah daerah wisata yang terkenal dengan perpaduan Bangunan Pura dan keindahan tebingnya. Salah satu spot yang paling di kunjungi disini adalah Pura Uluwatu, dimana letak pura ini berada di atas tebing dan sedikit agak masuk ke laut sehingga memberikan kesan luar biasa akan keindahan dan kemegahan bangunan.

Baca juga: Danau Weekuri Sumba, Surga Tersembunyi yang Menyimpan Sejuta Keindahan

Nama Pura Uluwatu ini cukup di kenal dengan keindahan dan keajaiban tersebut, anda bisa membayangkan bagaimana menariknya sebuah pura yang berdiri di tepi tebing dengan ketinggian hingga 50 meter. Pura ini merupakan pura yang sangat besar pengaruhnya dalam sisi spiritual masyarakat Bali. Pura ini merupakan penyangga dari 9 mata angin yang mereka sebut sebagai Sad Kayangan dalam kepercayaan mereka.

Setiap pengunjung yang datang ke lokasi wisata Uluwatu ini tentunya tidak hanya akan melihat keindahan Pura dan tebingnya saja, pada sore hari pengunjung akan melihat indahnya matahari terbenam di sebelah barat di arah Samudera hindia, selain itu juga di lokasi ini sering digelar acara Tari Kecak, tarik kecak adalah tarian tradisional yang terkenal dari pulau Bali.

Menuju Uluwatu

Untuk menuju Uluwatu anda akan menempuh jarak sekitar 30 km dari pusat kota Denpasar, uluwatu berada di bagian selatan pulau bali, selama perjalanan ke uluwatu, anda akan melihat keindahan-keindahan dan kehidupan masyarakat bali. Di sepanjang jalan anda akan melihat patung-patung yang terukir dengan indahnya. Anda juga akan melintasi bandara udara Ngurah Rai, tidak jauh dari arah bandara ini terdapat sebuah patung dimana seorang pria naik diatas kuda dan seorang wanita yang mengendarai kereta kuda tersebut, dan terlihat patung tersebut seperti menggambarkan sebuah pertempuran dalam zaman dulu.

Baca juga: Hutan Wisata Punti Kayu, Wisata Hijau Di Tengah Kota Palembang

Sesampai di lokasi Uluwatu, sebelum memasuki area uluwatu, anda akan diberikan beberapa pakaian seperti tali pinggang namun terbuat dari kain dan sebuah sarung untuk anda yang menggunakan celana pendek. Unik memang, setelah melewati gerbang, anda akan terlebih dahulu melewati kumpulan monyet-monyet yang terlepas bebas di daerah Uluwatu ini, anda bisa memberikan mereka makanan seperti pisang, namun hati-hati terhadap tingkah laku mereka, terkadang mereka usil dan mau merampas apa yang kita pegang, anda akan merasa senang melihat tingkah laku mereka yang lucu dan sedikit agak nakal.

Anda juga akan melewati desa-desa dengan arsitek rumah yang kental dengan budaya bali. Bukan hanya itu, anda juga akan melewati lokasi wisata yang juga terkenal yaitu GWK (Garuda Wisnu Kencana).

Sementara untuk akomodasi, anda tidak usah ragu, didaerah Uluwatu Bali ini banyak hotel, villa atau semacam homestay yang siap untuk anda tempati, dengan segala kenyamanan dan keramahan para penduduk Bali. So, selamat berwisata ke Tempat wisata Uluwatu – Pulau Bali.

Pura Taman Ayun Bali, Pesona Bersejarah Cagar Budaya Peninggalan Raja Mengwi

Pura Taman Ayun Bali
Pura Taman Ayun Bali

Anda termasuk penyuka destinasi budaya yang menawarkan kisah sejarah? Jika ya, maka Pura Taman Ayun Bali, wajib anda masukkan ke daftar paling atas, destinasi wisata tujuan Anda saat berlibur ke Pulau Dewata Bali. Sebab, Pura yang telah di bangun pada sekitar tahun 1634 oleh Raja Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu ini menyimpan banyak cerita menarik dan memiliki nilai sejarah tinggi.

Lokasi Pura Taman Ayun

Taman Ayun, yang secara bahasa berarti “Taman yang Indah” ini terletak atau berada di Desa Mengwi, kabupaten Badung, 8 km sebelah barat daya Ubud dan 18 km sebelah barat laut Denpasar. Pura ini adalah pura kawiten, yang berarti pura keluarga, pura yang secara khusus dibangun untuk menghormati para dewa dan leluhur dari para raja di Dinasti Mengwi. Pura Taman Ayun berada di komplek taman yang dihiasi oleh pepohonan rindang dan kolam yang memberi suasana tenang dan syahdu.

Baca juga: Hutan Wisata Punti Kayu, Wisata Hijau Di Tengah Kota Palembang

Sejak didirikan, Pura Taman Ayun telah mengalami beberapa proses restorasi atau perbaikan. Restorasi awal sekaligus yang terbesar dilakukan pada tahun 1937. Kemudian pada tahun 1949 kembali dilaksanakan restorasi untuk memperbaiki beberapa bagian pura. Kemudian di tahun 1972 dan 1976, Pura Taman Ayun kembali mengalami restorasi untuk memastikan bangunan tetap terjaga dengan baik.

Kawasan Pura Taman Ayu ini berada di lahan dengan luas 100 x 250 m2 yang terdiri atas sebuah pelataran/jaba luar dan tiga pelataran dalam, di mana makin ke dalam letak pelatarannya semakin tinggi. Pura ini dibatasi oleh kanal-kanal yang luas dan hanya bisa dimasuki melalui jembatan yang menghubungkan antara candi bentar pertama, yaitu pintu gerbang yang menjadi akses masuk ke pelataran terluar Pura Taman Ayun.

Jika Anda sudah memasuki daerah pertama yang disebut dengan Nista Mandala atau Jaba Pisan di kompleks Pura Taman Ayun ini, jangan lupa mengabadikan momen indah di air mancur yang memancar ke 8 arah mata angin, dan 1 yang mengarah tepat di tengah sebagai lambang Dewa Nawa Sanga, Sembilan dewa utama dalam kepercayaan Hindu Bali. Selain itu, ada pula Wantilan, sebuah bangunan besar yang kerap difungsikan untuk menyelenggarakan pertemuan dan pertunjukan kesenian.

Seklanjutnyam perjalanan Anda menuju candi bentar kedua yang akan mengantarkan Anda ke daerah kedua yang disebut dengan Madya Mandala atau Jaba Tengah. Daerah ini lebih tinggi letaknya dibandingkan dengan daerah yang pertama. Di sini, Anda dapat menikmati keindahan Aling-aling Pengubengan yang kerap digunakan pula sebagai balai pertemuan.

Baca juga: Danau Weekuri Sumba, Surga Tersembunyi yang Menyimpan Sejuta Keindahan

Semakin masuk ke dalam kompleks, Anda bisa menemukan daerah yang ketiga yang disebut dengan Utama Mandala atau Jaba Jero, daerah paling tertutup, sakral dan dianggap suci oleh penduduk Bali. Jaba Jero hanya bisa diakses di saat-saat diselenggarakannya upacara keagamaan yang penting, salah satu contohnya saat Odalan, yaitu hari peringatan berdirinya Pura Taman Ayun ini.

Odalan Pura Taman Ayun dilaksanakan setiap 210 hari di hari yang disebut Anggara Kasih, yaitu hari Selasa di minggu Medangsia dalan kalender Pawukon Bali. Jika Anda ingin berkunjung di saat pelaksanaan upacara tersebut, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan pihak tour/travel Anda untuk memastikan harinya agar Anda tidak kecewa

Tiket masuk Pura Taman Ayun

Biaya tiket masuk ke Pura Taman Ayun Bali ini cukup terjangkau, yaitu Rp 10.000 per orang. Selain itu, Anda juga cukup membayar Rp 5.000 untuk sekali parkir. Karena letaknya yang tidak jauh dari Kuta, Sanur, Denpasar dan Nusa Dua, maka Anda dapat memasukkan agenda mengunjungi pura ini di hari yang sama dengan destinasi-destinasi wisata di tempat-tempat tersebut. nah, semoga informasi yang kami sampaikan di atas bisa bermanfaat, khususnya yang ingin menikmati destinasi wisata bersejarah di pulau Bali.

Pura Besakih Salah Satu Wisata Religi di Bali yang Patut Anda Kunjungi

Pura Besakih di Bali
Pura Besakih di Bali

Berjalan-jalan ke Pulau dewata Bali tak lengkap rasanya apabila tak mengunjungi Pura. Dan dari sekian banyak Pura di Bali, Pura Besakih Bali merupakan salah satu Pura terbesar di Bali bahkan di Indonesia yang digunakan sebagai tempat persembahyangan bagi masyarakat Hindu.

Lokasi wisata Pura Agung Besakih Bali

Pura Besakih atau yang juga di kenal sebutan Pura Agung Besakih ini terletak di kaki gunung agung Desa Besakih, Kecamatan Rendang, kabupaten karangasem, Bali dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Waktu tempuh dari bandara Ngurah Rai atau daerah Kuta ke Pura Besakih ini hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam saja. Jadi jika Anda sedang berada di Kuta, sangat sayang bila tak menyempatkan mampir di sini.

Gunung Agung yang menjadi tempat berdirinya Pura Besakih ini, merupakan gunung tertinggi di Bali dan dipercaya sebagai tempat pemerintahan alam arwah, alam para dewata yang diutus Tuhan untuk menjaga wilayah Bali dan sekitarnya.

Lereng barat Gunung Agung yang dijadikan tempat suci bagi umat Hindu di Bali memberikan makna filosofi Pura Besakih dalam unsur – unsur kebudayaan masyarakat Bali seperti diantaranya :

1. Peralatan Hidup dan Teknologi

2. Organisasi kemasyarakatan

3. Mata Pencaharian Hidup

4. Sistem Pengetahuan

5. Kesenian

6. Bahasa

7. Upacara dan Religi

Ketujuh unsur budaya Hindu tersebut telah diterapkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya material dan wujud budaya aktivitas yang sudah ada sejak masa pra-Hindu yang dikembangkan melalui tahap mitis, tahap fungsional serta tahap ontologi.

Asal Usul Nama Pura Besakih

Nama Bekasih pada Pura terbesar di Indonesia ini diberikan oleh Empu Baradah Purahita dari kerajaan Erlangga. Bekasih diambil dari kata Basuki yang berati Naga. Sejak tahun 1995, Pura Bekasih masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Baca juga: Danau Weekuri Sumba, Surga Tersembunyi yang Menyimpan Sejuta Keindahan

Pura Bekasih memliki satu pura pusat yang dikenal dengan sebutan Pura Penataran Agung Bekasih yang dikelilingi dengan depalan belas Pura Pendamping, satu pura dikenal dengan nama Pura Basukian dan 17 pura lainnya. Selain itu, disekitar Pura Penataran Agung Agung memiliki Padma Tiga sebagai Tahta Sang Hyang Tri-Purusa yang terdiri dari Siwa, Sada Siwa serta Perama Siwa. Pura Bekasih memiliki struktur bangunan yang beundak – undak yang merupakan kelanjutan tradisi peninggalan zaman megalitikum sebelum agama Hindu masuk ke Indonesia. Bukti Peninggalan menhir, arca yang dikembangkan menjadi meru, pelingggih dan gedong merupakan hasil dari kebudayaan masyarakat Hindu.

Pura Bekasih merupakan tempat pengekspresian dari kepercayaan Tri Hita Karana yang diartikan sebagai 3 penyebab kebahagian melalui hubungan antara manusia sama tuhan, hubungan antara manusia dengan alam serta hubungan manusia dengan sesamanya. Pura Bekasih sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat Hindu serta wisawatan domestik maupun manca negara pada hari besar agama Hindu seperti Galungan, Tilem, Punama dan Sirawatri. Pada hari – hari besar tersebut, nuansa wisata religi akan semakin terasa.

Di bagian pelataran Pura Bekasih, Banyak warung – warung kecil yang menyediakan kuliner khas Bali. Harga murah dengan rasa yang istimewa. Itu lah komentar yang selalu diberikan oleh pengunjung yang datang kesana. Selain itu, berburu souvenir khas Bali yang sangat bervariasi dan unik dapat Anda lakukan di jalan setapak yang menuju ke arah Pelataran Pura Bekasih.

Baca juga: Hutan Wisata Punti Kayu, Wisata Hijau Di Tengah Kota Palembang

Candi – Candi yang ada disekitar Pura Bekasih menambah nuansa wisata religi pada pura ini. Ada beberapa aturan bagi wisawatan atau pengunjung yang ingin masuk ke Pura Bekasih. Bagi wisawatan yang Non Hindu, diwajibkan untuk membawa kamen ( sarung ) dan selendang serta diwajibkan untuk memakai Udeng yang mirip ikat kepala yang digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali.

Penutup

Keindahan candi yang ada disekitar Pura Besakih Bali menjadi daya tarik yang tinggi bagi wisatawan domestik maupun luar negeri. Bagi Anda yang mencari wisata yang mampu menawarkan suasana tenang dengan nuansa religi, Pura Bekasih bisa menjadi solusi. Nah, Anda tertarik untuk ke sana ?